PSI Loading...
Beranda > Berita > Sang Penembus Batas (Catatan 18 Tahun Perjalanan...

Sang Penembus Batas (Catatan 18 Tahun Perjalanan Politik Ahmad Ali)

16 May 2026
Berita Utama
Admin PSI Sulteng
Sang Penembus Batas  (Catatan 18 Tahun Perjalanan Politik Ahmad Ali)
Pengantar Penulis Ini adalah buku kedua yang penulis persembahkan untuk perjalanan karir politik Ahmad Ali. Buku pertama berjudul Pikiran dan Tindakan Ahmad Ali untuk Sulawesi Tengah. Sayangnya jumlah cetaknya terbatas karena penulis mengongkosi sendiri. Ahmad Ali, sama sekali tidak tahu jika saya menulis tentang rekam jejak, pikiran dan tindakannya. Ini bentuk apresiasi, rasa bangga dan penghormatan pribadi penulis kepada tokoh politik yang namanya sudah menasional itu. Bangga karena ada tokoh dari daerah yang sukses menjajal dunia politik di pusat pemerintahan. Ia mampu melawan segala keangkuhan dunia politik yang terkadang tidak berprikemanusiaan. Tidak ada maksud menafikkan tokoh politik yang lain dari Sulawesi Tengah. Ini hanya soal waktu dan kesempatan penulis yang terbatas. Ini juga karena Ahmad Ali di mata penulis adalah tokoh politik lokal yang fenomenal. Saya terpanggil mengisahkannya. Merangkainya menjadi buku yang penulis yakini kelak akan menjadi sejarah. Tindakan ini sekaligus bentuk penghargaan penulis karena tidak sedikit pengorbanan Ahmad Ali kepada masyarakat Sulawesi Tengah, kepada perseorangan, organisasi, maupun kepada daerah. Terlepas apa motif di balik semua itu, tetapi ia nyata berbuat, memberi yang terbaik. Ia mempersembahkan apa yang ia punya, saat yang lain hanya pandai mengeritik, hanya jago debat, hanya hebat menyalahkan orang lain bahkan mencela. Mungkin hanya karena satu kelalaian orang, lalu melupakan seribu kebaikan yang pernah ia torehkan. Seringkali penulis katakan kepada setiap orang, jika kita belum mampu membantu banyak orang, setidaknya kita yang membantu orang yang selalu membantu banyak orang dengan cara kita sendiri. Mendoakannya, agar ia terus istiqomah. Ajaran agama saya menganjurkan agar selalu berbuat baik kepada setiap orang. Setidaknya rekam jejak Ahmad Ali yang penulis abadikan dalam buku ini, menjadi pengingat untuk generasi Sulawesi Tengah ke depan, bahwa dulu pernah ada tokoh politik dari kampung yang karir politiknya dimulai dari bawah. Terus melejit cepat sampai ke level nasional dan berpengaruh. Tidak butuh waktu satu dekade, Ahmad Ali sudah mampu bertengger di posisi puncak sejajar dengan politisi nasional yang namanya kerap menghiasi media nasional. Memegang jabatan penting dan strategis seperti Wakil Ketua Umum di NasDem, Ketua Harian di Partai Solidaritas Indonesia (PSI), bukan tidak memiliki konsekuensi. Banyak yang mengapresiasi dan bangga, tapi tidak sedikit pula yang berusaha menjatuhkan.

- Iklan Sponsor - psi mancing

psi mancing

Hari ini sahabat, besok bisa menjadi lawan. Kemarin lawan, hari ini menjadi kawan. Hari ini memuji, besok bisa balik haluan membangun kekuatan untuk melawan. Sebagian fenomena itu tersaji dalam buku ini. Di tengah menguatnya media digital hari ini, semangat orang untuk menulis buku relatif menurun. Nyaris semua menggantungkan ke aplikasi berbasis digital. Murah, enteng diakses, dan kapasitas yang tidak terbatas. Teknologi memang banyak menguntungkan, tetapi juga berdampak negatif pada sendi yang lain. Sebagai tokoh, tentu jejak digital Ahmad Ali sangat banyak tersaji dan dengan enteng bisa diakses publik. Jejak itu berbicara, hidup penuh warna dan menjadi sejarah. Semuanya menjadi penanda bahwa siapa yang bekerja, berbuat, akan selalu terekam oleh media digital. Pembaca jualah yang akan menyaring, menalarnya, sehingga bisa membedakan mana informasi yang pantas dipegang dan mana yang dibuang. Tidak ada keberhasilan yang diraih secara kebetulan tanpa kerja keras. Tidak ada pula yang menuai sukses tanpa rintangan. Jatuh bangun dalam usaha hal yang biasa. Demikian pula di dunia politik. Ini dunia yang serba tidak pasti. Jalannya berkelok. Licin pula. Mereka yang tidak menguasai medan, sekali saja tergelincir bisa terjerembap, sulit untuk bangkit lagi melanjutkan perjalanannya. Tapi anehnya banyak yang berlomba melintasi jalan ini. Begitu pula dengan Ahmad Ali, tidak sedikit kegagalan yang menghampirinya. Justru dari kegagalan demi kegagalan yang dilewatinya, ia terus bertumbuh dan membawanya eksis ke panggung politik nasional. Semuanya melalui proses, kerja keras dan pengorbanan. Ia melakoninya dengan sepenuh jiwa dan raga. Kisah kegagalan, badai politik yang mendera mantan legislator DPR RI dua periode itu, juga tersaji di buku ini. Semoga saja bahasanya renyah, enak dibaca. Pelajaran penting dari perjalanan politiknya bahwa ia pantang menyerah. Tidak pernah larut dalam ratapan akibat kegagalan. Apalagi surut. Justru itu yang membuatnya segera berdiri dan berlari lagi. Bagi sebagian orang menganggap Ahmad Ali bisa eksis karena memiliki modal besar. Ada benarnya. Tapi itu tidak cukup tanpa didukung sumber daya yang lain. Sumber daya manusia, bernyali besar, dan berkepedulian sosial. Semua ikut mendukung menjadi satu kekuatan. Penulis menyadari, dalam buku ini banyak yang kurang. Semua kekurangan itu kembalikan kepada penulis, karena bisa jadi akibat keterbatasan penulis sehingga perspektifnya kurang pas di hati dan pikiran pembaca. ***

Bagikan:

Berita Terkait