Sang Penembus Batas (Catatan 18 Tahun Perjalanan Politik Ahmad Ali)
Hari ini sahabat, besok bisa menjadi lawan. Kemarin lawan, hari ini menjadi kawan. Hari ini memuji, besok bisa balik haluan membangun kekuatan untuk melawan. Sebagian fenomena itu tersaji dalam buku ini. Di tengah menguatnya media digital hari ini, semangat orang untuk menulis buku relatif menurun. Nyaris semua menggantungkan ke aplikasi berbasis digital. Murah, enteng diakses, dan kapasitas yang tidak terbatas. Teknologi memang banyak menguntungkan, tetapi juga berdampak negatif pada sendi yang lain. Sebagai tokoh, tentu jejak digital Ahmad Ali sangat banyak tersaji dan dengan enteng bisa diakses publik. Jejak itu berbicara, hidup penuh warna dan menjadi sejarah. Semuanya menjadi penanda bahwa siapa yang bekerja, berbuat, akan selalu terekam oleh media digital. Pembaca jualah yang akan menyaring, menalarnya, sehingga bisa membedakan mana informasi yang pantas dipegang dan mana yang dibuang. Tidak ada keberhasilan yang diraih secara kebetulan tanpa kerja keras. Tidak ada pula yang menuai sukses tanpa rintangan. Jatuh bangun dalam usaha hal yang biasa. Demikian pula di dunia politik. Ini dunia yang serba tidak pasti. Jalannya berkelok. Licin pula. Mereka yang tidak menguasai medan, sekali saja tergelincir bisa terjerembap, sulit untuk bangkit lagi melanjutkan perjalanannya. Tapi anehnya banyak yang berlomba melintasi jalan ini. Begitu pula dengan Ahmad Ali, tidak sedikit kegagalan yang menghampirinya. Justru dari kegagalan demi kegagalan yang dilewatinya, ia terus bertumbuh dan membawanya eksis ke panggung politik nasional. Semuanya melalui proses, kerja keras dan pengorbanan. Ia melakoninya dengan sepenuh jiwa dan raga. Kisah kegagalan, badai politik yang mendera mantan legislator DPR RI dua periode itu, juga tersaji di buku ini. Semoga saja bahasanya renyah, enak dibaca. Pelajaran penting dari perjalanan politiknya bahwa ia pantang menyerah. Tidak pernah larut dalam ratapan akibat kegagalan. Apalagi surut. Justru itu yang membuatnya segera berdiri dan berlari lagi. Bagi sebagian orang menganggap Ahmad Ali bisa eksis karena memiliki modal besar. Ada benarnya. Tapi itu tidak cukup tanpa didukung sumber daya yang lain. Sumber daya manusia, bernyali besar, dan berkepedulian sosial. Semua ikut mendukung menjadi satu kekuatan. Penulis menyadari, dalam buku ini banyak yang kurang. Semua kekurangan itu kembalikan kepada penulis, karena bisa jadi akibat keterbatasan penulis sehingga perspektifnya kurang pas di hati dan pikiran pembaca. ***